Breaking News
Loading...
Wednesday, April 17, 2013

Info Post

BAB 11

TINJAUAN UMUM PENDIDIKAN AKHLAK
DI PESANTREN


A.  Pengertian Akhlak dan Ilmu Akhlak

Akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang dengan mudah melakukan perbuatan tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Namun hal itu tidak muncul dengan sendirinya secara otomatis. Sifat itu harus ditumbuhkan dan dilatih sehingga menjadi kebiasaan yang mengakar dan mendarah daging. Agar hal itu menjadi sebuah kebiasaan, maka diperlukan adanya pendidikan untuk menanamkan akhlak .
Namun sebelum berbicara panjang lebar mengenai pendidikan akhlak pada santri, dalam bab ini akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian akhlak dan ilmu akhlak, kedudukan akhlak di pesantren, prinsip pendidikan pesantren dan metode pendidikan akhlak di pesantren .
Secara etimologi, kata akhlak berasal dari kata khalaqa dengan akar kata  khuluqun (Bahasa Arab), yang berarti perangai, tabiat dan adat; atau dari kata I khalqun (Bahasa Arab), yang berarti kejadian, buatan, atau ciptaan. Jadi akhlak berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat.[1]Sedangkan dalam bahasa Indonesia, biasanya diterjemahkan dengan budi pekerti atau sopan santun atau kesusilaan. Dalam bahasa Latin disebut  “ethic” atau “moral” yang berarti adat kebiasaan. Secara terminologi ada beberapa pendapat tentang pengertian akhlak, antara lain:                   
1.  Menurut Ibn Maskawih:
         “ Khuluk atau akhlak adalah keadaan jiwa yang menumbuhkan perbuatan dengan  mudah tanpa memerlukan  pemikiran”.[2]
2.  Menurut Al Ghazali:
           “Khuluk atau akhlak adalah keadaan jiwa yang menumbuhkan perbuatan dengan mudah tanpa berfikir (terlebih dahulu).[3]
3.  Menurut Ahmad Amin:
     “Akhlak adalah kehendak yang dibiasakan. Maksudnya, jika kehendak tersebut
            membiasakan sesuatu; maka kebiasaan itu disebut akhlak”.[4]
      Dengan demikian, dari ketiga defisi diatas, bisa disimpulkan, akhlak adalah kehendak yang dibiasakan, sehingga ia mampu menimbulkan perbuatan dengan mudah, tanpa pertimbangan pemikiran lebih dahulu.
Menurut Umari Barmawie dalam bukunya “Materia Akhlak” disebutkan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir batin. Dengan kata lain, ilmu akhlak adalah:
1.      Menjelaskan arti baik dan buruk.
2.      Menerangkan apa yang seharusnya dilakukan.
3.      Menunjukkan jalan untuk melakukan perbuatan.
4.      Menyatakan tujuan di dalam perbuatan.
Jadi, ilmu akhlak adalah ilmu yang mempersoalkan baik buruknya amal. Amal terdiri dari perkataan, perbuatan atau kombinasi keduanya dari segi lahir dan batin.[5]
Ahmad Amin memberikan definisi ilmu akhlak sebagai berikut:
“ Ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang mesti diperbuat dalam pergaulan, menjelaskan tujuan yang harus  dicapai,dan jalan yang sebaiknya dilalui dalam aktifitasnya.[6]

 

B. Kedudukan Akhlak di Pesantren

Akhlak mempunyai kedudukan yang sangat penting. Peranannya dalam sebuah pesantren dijunjung tinggi oleh segenap elemen-elemen pesantren, termasuk juga ustadz dan kiai.
Terdapat 3 pandangan tentang  kedudukan akhlak di pesantren, yakni, 1) akhlak sebagai media untuk menerima nur Illahi, 2). Akhlak sebagai amalan utama,3) akhlak sebagai sarana mencapai ilmu manfaat.[7]
1.  Akhlak sebagai media untuk menerima Nur Illahi
Pesantren sebagai suatu bentuk lingkungan masyarakat yang unik dan memiliki tata nilai kehidupan yang positif.[8]Adanya anggapan dilingkungan pesantren bahwa ilmu adalah Nur Illahi dan tidak akan bisa diterima kecuali oleh orang-orang yang suci. Al Ghazali mengggambarkan hati sebagai cermin dan maksiat sebagai kotoran yang menutupi kejernihannya. Semakin seseorang melakukan maksiat, berarti semakin banyak kotoran yang menutupi hatinya, sehingga hatinya menjadi gelap, tidak bisa melihat kebenarannya.[9] Al qur’an Menyatakan:
“ Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang merka usahakan itulah yang menutupi hati mereka sendiri” (QS. Al Muthaffifin. 14)[10]

Dengan demikian, bisa tidaknya seseorang mendapatkan cahaya pengetahuan dari Tuhan adalah tergantung dari akhlak seseorang itu sendiri. Apabila ia sering melakukan maksiat, akan sulit baginya untuk menerima cahaya  pengetahuan dari Tuhan, sebaliknya apabila ia mempunyai akhlak yang baik, maka mudah baginya menerima cahaya pengetahuan.[11]
2.  Akhlak sebagai sarana memperoleh ilmu manfaat
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim menjelaskan bahwa seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan gurunya. Ada dikatakan:” Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, manusia tidak menjadi kafir lantaran maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran “tidak” mengagungkan Allah”.[12]
Kesuksesan seseorang dalam menuntut ilmu adalah dengan menghormati gurunya. Sedemikian besar pengaruh akhlak terhadap keberhasilan seseorang untuk dapat memperoleh ilmu yang manfat, karena ia merupakan landasan utama bagi terbentuknya pribadi yang saleh, ketika kesalehan dari telah terbentuk, maka segala ilmu yang diperoleh akan digunakan untuk kebaikan orang lain.
Mengutip dari Tamyiz menerangkan pendapat Ibnu Hajar Al- Asqalani diuraikan secara gamblang tentang cara mendapat ilmu manfaat, menurutnya ada 3 syarat untuk mencapai ilmu manfaat,1) tidak cinta dunia, karena dari sini keserakahan akan muncul, 2) tidak berteman dengan orang jahat, karena persahabatannya itu, ia akan sulit menolak untuk diajak berbuat jahat bahkan akan tergantung olehnya, 3) tidak menyakiti orang lain, karena dari itu menunjukkan kalau ia berhati kotor dan berakhlak buruk.[13] Orang yang menginginkan ilmu manfaat harus menjaga diri dari perbuatan-perbuata yang tidak baik tersebut, sehingga ia dapat memperoleh cahaya pengetahuan dari Allah.
3.  Akhlak sebagai amalan utama
Pendidikan dan pengajaran di pesantren, semuanya diarahkan pada pencapaian akhlak. Pengajaran ilmu tauhid, misalnya selain memberikan dasar keyakinan, mesti juga mencerminkan norma-norma tingkah laku serta budi pekerti dalam pergaulan sosial.[14]Akhlak disini dipandang sebagai sesuatu yang agung. “Kebaikan adalah kebaikan perangai”.
Ada beberapa literatur yang menyatakan keutamaan akhlak. Dalam kitab Riyad Al-Salihin disebutkan:
“ Yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling bagus akhalknya dan sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya”.[15]
Hal senada juga disebutkan dalam Ihya Ulum Al-Din:
“Al-Fadl berkata, disampaikan para rasul bahwa seorang wanita berpuasa pada siang hari dan shalat di malam hari, tetapi tidak baik perangainya. Ia menyakiti tetangganya dengan ucapan-ucapan. Rasul bersabda,“tidak ada kebaikan baginya”. Ia termasuk ahli neraka.[16]


[1]Muslim Nurdin, dkk,  Moral Dan Kognisi Islam, CV. Alfabeta, Bandung, 1993, hlm. 205.
[2]Tamyiz Burhanuddin, Akhlak Pesantren Solusi Bagi Kerusakan Akhlak, Ittaqa Press, Yogyakarta, 2001, hlm. 39.
[3]Al Ghazali, Ihya Ulum Al Din 111, Bairut, Dar Al-fikr, 1913, hlm.  48.
[4]Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Farid MA’ruf (Alih Bahasa), PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1993, hlm. 62.
[5]Umary Barmawie,  Materia Akhlak,Ramadhani, Solo, 1995, hlm. 1.
[6]Tamyiz Burhanuddin, Op. Cit, Hlm. 41.
[7]Ibid, hlm.  42.
[8]Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren Pendidikan Alternatif Masa Depan, Gema Insani Press, Jakarta, 1997, hlm. 65.
[9]Al Ghazali, Op. Cit, hlm.11.
[10]Depag RI, Al Qur’an Dan Terjemahnya, Toha Putra, Semarang, 1989, hlm. 1036.
[11]Tamyiz Burhanuddin, Op. Cit., hlm. 45.
[12]Aliy Asa’ad, Terjemah Ta’lim Muta’alim Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu,Menara Kudus, Kudus, 1978, hlm.21
[13]Tamyiz Burhanuddin, Op. Cit., hlm. 46.
[14]Dawam Raharjo (editor), Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta,LP3ES, 1988, hlm. 3.
[15]Muyi Al-Din Abu Zakaria Yahya ibn Masyrik, Riyadh Al-Solihin, Nur Asia, Semarang, tt, hlm. 303.
[16]Al-Ghazali, Op. Cit., hlm. 45.

0 comments:

Post a Comment

Leave Your Comments